Monday, August 31, 2015

UNTUK BALI (PART IV)

Ilustrasi untuk 30 th lagi....
Ilustrasi 1 :
Cucu : "pekak adi kene jani gumi baline?. Banjir meilehan, carik kering, turis bo bedik mai.. ape mekade ne kak?"
Pekak : " mgkn karena alam marah de, irage trus menyakiti tanpa henti, proyek reklamasi pidan dugas pekak teruna salah satunya mekade.."
Cucu : "Men pekak dije waktu reklamasi dugas to?"
Pekak : "kene ning pekak menolak, pekak bergerak, pekak milu parade budaya menolak reklamasi di renon, pang sing je jadi, tp tetap gen terjadi, ne karna timpal2 pekak sing perduli, sibuk ajak urusan pribadi, sibuk melali sambil selfi"
Ilustrasi 2:
Cucu : "pekak adi kene jani gumi baline?. Banjir meilehan, carik kering, turis bo bedik mai.. ape mekade ne kak?"
Pekak : " mgkn karena alam marah de, irage trus menyakiti tanpa henti, proyek reklamasi pidan dugas pekak teruna salah satunya mekade.."
Cucu : "Men pekak dije waktu reklamasi dugas to?"
Pekak : "...emm anu pekak sibuk melali sambil selfi"

Kedua cerita diatas sama, yang berbeda hanya jawaban akhirnya saja, 30 atau 50 tahun lagi Saya adalah kakek yg ada di ilustrasi pertama. Kenapa saya menolak? Terlalu banyak alasan menurut saya, ketika saya membaca dan menelaah informasi  dampak baik dan buruk reklamasi, saya lebih banyak melihat dampak buruknya, anda bisa berkunjung ke situswww.forbali.org (jangan hanya buka bokep saja) atau kultwit @kurawa (rudi valinka)  yang akan membelalakan mata anda disini http://chirpstory.com/li/163134 disinihttp://chirpstory.com/li/222033 disini http://chirpstory.com/li/161014 disini adahttp://chirpstory.com/li/162237   jika ingin tahu lebih banyak dan detail tentang dampak buruk reklamasi dan alasan kenapa ronaldo kebali. Saya lebih percaya apa yang saya baca dan telaah dengan akal sehat saya daripada argumen atau komentar tokoh politik, percaya kata mereka itu sama dengan percaya matahari terbit di utara. Mana kentut mana suara mereka tak bisa saya bedakan. Makanya pas nonton acara debat di tv itu yang saya dengar itu "....brat bret brot anda itu, .......ah jangan tuduh saya brat bret brot sembarangan,..... nanti saya tuntut kamu baru kamu brat bret brot..." Kurang lebih begitu.


Pesona bali tak bisa dipungkiri, bahkan kami yang menganggap sawah, tukad (sungai) dan mata air (pancuran/air terjun)  adalah hal yang biasa, kini sudah jadi daya tarik wisata berkat media sosial semacam fb dan instagram. Keren karena bisa membawa berkah untuk masyarakat lokal sehingga bisa dipelihara dengan baik. Miris karena semakin terkenal ada efek buruk spt sampah plastik, botol minuman, snack, bahkan bekas shampo kian banyak. Itu tempat wisata, bahkan sebagian tempat wisata (air terjun) adalah kawasan suci bagi kami, tapi banyak anak muda gaul bawa slr, kacamata necis  yg tega memperlakukan tempat wisata (suci) layaknya tempat sampah. Habis minum, ngemil, ngerokok, klo tidak ada tempat sampah silahkan bawa pulang sampah anda. Silakan ambil foto tp jangan tinggalkan jejak sampah anda. Sejatinya yang sampah itu anda yg berperilaku begitu, ya sampah masyarakat. Klo anda punya pacar kayak gitu udah  putusin saja, sampah aja dibuangnnya sembarangan apalagi kamu...

Kembali ke reklamasi. Ketika dampak baik yg digembor2kan para pendukung reklamasi adalah menyerap banyak tenaga kerja, semeton jangan begitu mudah percaya. Bagaimana klo saya kutipkan isi berita ini http://suluhbali.co/emb-menduga-ada-diskriminasi-perekrutan-pekerja-hindu-di-bali/  Anda marah? Iya saya juga tapi bedik (sedikit), bukan karena ada unsur sara dsb, alasan saya jengkel hanya karena saya bertanya-tanya. Bagaimana cara kami menjaga budaya dan keajegan bali yg dipuji dan teramat menarik untuk didatangi klo mencari sesuap nasi saja kami dibatasi. Sedangkan untuk jadi petani lebih berat lagi, air, sampah plastik, keterbatasan pupuk, pajak.   sawah sudah kami jual, buat kami kebanyakan sawah sudah alih guna menjadi villa, bungalow, hotel, resto, galery dsb. Ini opini saya pribadi, investor yg bukan orang bali cenderung untuk membatasi karyawan lokal, alasan klise "orang bali banyak libur". Padahal kami tak mungkin rasanya libur dengan mengorbankan sebagian uang makan/gaji kami untuk sesuatu yg tak kalah penting. Ngayah, menyame braya, mesuka duka tak mungkin kami tinggalkan, karena tulang punggung budaya bali yg membuat bali begitu dicintai dunia salah satunya adalah hal-hal yg saya sebutkan tadi.


Saya mungkin menurut anda  banyak bicara, sok tau, sok perduli, sok ganteng. Saya memang seperti itu, tapi tak ada "sok"nya. Saya bicara dan teriak-teriak di jalanan renon menolak reklamasi. Anda? Diam saja atau mungkin bicara kalo saya hanya buang waktu saja. Saya tau dampak baik & buruk reklamasi dari membaca. Anda membaca linimasa (timeline) galau akut teman maya dan sok menasehati padahal diri sendiri belum bisa move on. Saya perduli gerakan #balitolakreklamasi  dengan membeli kaos #balitolakreklamasi  yg semua keuntungannya dijadikan donasi yg dikelola walhi bali untuk menjaga gerakan #balitolakreklamasi tetap ada dan untuk advokasi #batalkanperpres51th2014.  Anda? perduli dengan diri sendiri, beli kaos #jaenidupdibali #mytripmyadventure. Yg penting gaul gagah keren tren dan bisa selfi. Tak perduli walau sering sekali buang sampah dan mengotori. Tak risih alam rusak kini dan nanti. Yang terakhir dan paling penting dan inti dari semua ini. Saya memang ganteng. Dan anda? Jelek. Itu saja.


Harusnya saya pada paragraf diatas mengganti kata "saya" dengan kata "kami" karena saya tak  sendiri, ada ribuan sperti "kami". Yang bicara, yang perduli dengan bali kini dan nanti. Dan mengganti kata "anda" dengan "kalian". Yang diam saja tak perduli. Atau memang tak tau kalo bali nanti tak indah elok sperti saat ini. Tapi "kalian" bisa berubah menjadi "kami". Dengan dukung gerakan #balitolakreklamasi. Dunia maya punya pengaruh kuat, isi petisihttps://www.change.org/p/ketua-dprd-bali-segera-cabut-sk-reklamasi-teluk-benoa disini jugahttps://www.change.org/p/pak-jokowi-do2-tolak-reklamasi-teluk-benoa-batalkan-dan-cabut-perpres-51-2014  ganti profil media sosial dengan bantuan twibon.  Disinihttp://t.co/GeBLYnzEnQ  dengan  Beli t-shirtnya dan "kalian", ah maaf "kalian" sudah jadi "kami" dan "kami" sudah jadi"kita". Dan kita tampil ganteng sambil berdonasi. Turun kejalan nyanyi yel-yel tolak reklamasi. kalian (ah maaf kita) akan terlihat gagah tapi masih bisa selfi dengan penuh arti seperti saya di akhir tulisan ini.


Tak ada yang memksa kami panas-panasan hingga kulit menghitam nyanyi-nyanyi tolak reklamasi. Tak masalah jalan kaki dan hisap polusi. Tak ada yang memberi kami gaji atau bahkan nasi untuk ikut gerakan ini. Kami tergerak karena nurani kami sendiri, nurani karena kami mencintai Bali kini dan nanti.

Tak ada yg memaksa kami ijin pulang kerja lebih awal (maaf pak bos saya bolos). Tak mengapa kedenpasar denga motor butut tercinta  untuk ikut Parade budaya, bahagia walau disana  cuma bisa beli lumpia,  tak apa penuh keringat bercucuran demi cinta, agar kelak tak ada air mata.

Selamat ulang tahun Bali. Terimaksih sudah membaca, tak suka tulisan ini tak apa asalkan dalam hatimu kamu setuju.