Saat engkau terjaga
Aku 'kan ada di sana
Sempatkan bermain dan bawakan cendera mata
Satu sampai lima tahun, cepat tak terasa
Untaian kata diatas bukan puisi karya bapak, bapakmu tidak sepuitis itu, itu penggalan lirik lagu .Feast yang bapak dengar tiap hari melebihi minum obat, tapi belum bosan juga. Lagu itu mewakili perasaan seorang bapak. Seorang bapak yang putri keduanya sudah melewati 5 tahun. Seorang bapak yg pulang kerja (dipaksa) bawa cenderamata atau oleh2. Kelak bapak akan merindukan masa ini. Masa dimana ketika pulang disambut nyanyian/yel-yel “gagapan… ingatlah itu.. “. Mungkin saja ini adalah masa terindah hidup bapak.
Bapak menjadi bapakmu sudah genap enam tahun. bapak melihat kamu mulai dari dari berbentuk cairan, foto USG sampai sebesar sekarang. Sebentar lagi kamu akan sekolah TK. Sudah tak bisa lagi bangun siang dan malas-malasan. Ibumu selalu bilang bahwa kamu adalah fotocopy bapak, yg suka tidur alias kaum rebahan. Seringkali ibumu marah klo melihat kamu atau bapak rebahan saja tak melakukan apa-apa. Mendengar ibumu cerewet dan marah2 itu bapak semakin yakin bahwa dunia bapak sedang baik-baik saja. Rumah adalah tempat bapak atau kamu bisa jadi diri sendiri. Tentu dengan resiko kena gas ibumu.
Di usia kamu saat ini, kakakmu sudah bisa baca dan tulis tanpa les tambahan berkat bapak? sudah pasti bukan. Walau bapak pernah sekolah keguruan 4 semester ternyata yng lebih pintar mengajar adalah ibumu. Masalahnya kamu tak secepat kakakmu dalam belajar. Tak apa. Tenang saja bapak tak akan memaksa kamu belajar. Atau marah-marah kerika kamu malas belajar. Klo memberi semangat mungkin iya, karena bapak yakin kamu kurang dorongan saja. Bapak tahu kelak kamu pasti bisa. Yang bapak percayai daripada memaksa anak belajar lebih baik menyalakan rasa penasaran dalam dirimu. Pendidikan anak-anak bukan tentang mengisi ember tapi menyalakan api (Friedrich Froebel).
Toh kamu punya rasa ingin tahu yang lumayan menyulitkan bapak. Contoh pertanyaanmu, “kalo bumi bulat kenapa air laut tidak tumpah? kalo bumi bulat manusia yang diam disamping kenapa tidak merasa miring atau jatuh kebawah, cahaya itu apa sebenarnya?”. Tenang nak pertanyaan itu semua bisa bapak jawab pelan-pelan dengan bantuan google. Yang susah bapak jawab adalah klo ibumu nanya, “bapak masih sayang ibu nggak?” tidak antusias menjawab, salah nada, terlalu cepat, terlalu lama adalah kesalahan dimata ibumu. Untuk pertanyaan itu google pun nampaknya akan menyerah jika yang nanya ibumu..
Tulisan ini sudah tulisan ke-6. Bapak menganggap ini hadiah, bukan buat kamu, tapi buat bapak untuk bapak baca kelak. Bahwa semesta memberi kesempatan bapak memiliki kalian, anak-anak bapak, dan tentu saja ibumu. Wanita tercantik di jagad raya (klo tidak sedang marah). Tulisan ini juga wujud rasa syukur bapak bahwa kamu tumbuh sehat dan ceria. Bapak sudah mendekati empat puluh tahun. Menua bukan pilihan tapi kepastian. Meski masih terlihat tampan nan rupawan (kata ibumu) tapi sudah setengah lebih rambut bapak uban, sudah mulai rabun dan pikun. Sudah lupa banyak hal, yang tidak bisa bapak lupa mungkin hanya ibumu saja. (ehm)
Tugas kamu kelak bacakan tulisan ini jika mata bapakmu sudah tak mampu lagi membaca kata demi kata tulisan ini. keraskan saja nada suara kalau telinga bapak sudah mulai tak mampu mendengar. Kelak mungkin suaramu akan jadi nyanyian terindah dan semerdu nyanyian kalian saat ini “gagapan.. ingatlah itu..”
Menyambung lirik di awal paragraph pertama tulisan ini, lagu yang mungkin jg liriknya bapak kutip lagi untuk kakakmu. Karena lagu ini benar-benar menyentuh hati dan perasaan bapak,
Segala hal kuupayakan untuk melindungi
Tunggu aku kembali lagi esok pagi
Tumbuh lebih baik, cari panggilanmu
Jadi lebih baik dibanding diriku
'Tuk sementara ini aku mengembara jauh
Saat dewasa kau kan mengerti
Selamat Ulang Tahun putri tidurku. Putri yang selama 6 tahun ini selalu minta di usap kakinya menjelang tidur. Dewa Ayu Made Kaneishia Putri Dharmika. Semoga semesta selalu menyayangimu.
Kanesh 5 tahun
No comments:
Post a Comment
silakan komentar bebas tp sopan anda kan sekolah.